Tolak Lockdown: Ketua Umum HICMI, Ketua Jaga Lembur Bersama Komunitas Suara Juang Kami Untuk Indonesia Dukung Kebijakan Jokowi

Tolak Lockdown: Ketua Umum HICMI, Ketua Jaga Lembur Bersama Komunitas Suara Juang Kami Untuk Indonesia Dukung Kebijakan Jokowi

MEDIAANDALAS.COM, BANDUNG – Ketua Umum Himpunan Cendikia Muda Indonesia (HICMI), Sanjaya Martadipraja bersama komunitas masyarakat lainnya yang tergabung dalam Suara Juang Kami Untuk Indonesia Dukung keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak mengeluarkan kebijakan “Lockdown” terkait merebaknya penyebaran wabah virus Corona.

Alasannya, kebijakan lockdown akan berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. “Jangan lockdown Indonesia. Imbasnya bakal luar biasa,” kata Ketua Umum HICMI, Sanjaya Martadipraja melalui keterangan rilis Videonya, Rabu (01/04/20).

Sanjaya Martadipraja Sanjaya Martadipraja bersama komunitas masyarakat lainnya yang tergabung dalam Suara Juang Kami Untuk Indonesia menyampaikan beberapa poin dalam penanganan wabah Virus Corona (Covid-19) di Indonesia yakni:

Pertama: Mendukung sepenuhnya langkah-langkah yang akan diambil oleh Presiden Joko Widodo dalam penanganan COVfD-19 di Indonesia.

Kedua: Mendukung Presiden Jokowi untuk tidak menetapkan Status LOCKDOWN dalam penanganan COVID-19, melainkan melakukan langkah-langkah strategis yang melibatkan seluruh pemerintahan daerah.

Ketiga: Menghimbau seluruh Politisi dan Pengurus partai yang ada di Legislatif maupun diluar Legislatif agar tidak mempolitisasi setiap kebijakan yang akan diambil oleh Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dalam penanganan COVlD-19.

Keempat: Menghimbau seluruh Masyarakat agar turut berperan dalam menyelesaikan permasalahan COVID-19 dengan Tidak Keluar dari Rumah apabila tidak ada keperluan yang mendesak serta menjaga Kesehatan masing – masing dan melaporkan apabila merasa terganggu kesehatannya.

Kelima:  Mendukung POLRI dalam menegakkan hukum terhadap Pelanggaran Maklumat Kapolri terkait Kumpulan Massa selama proses penanganan COVID-19.

Penyebaran virus Corona memang mulai menebarkan kekhawatiran di tengah masyarakat seiring jumlah pasien yang terus mengalami lonjakan. Di Bandung, pembatasan akses publik di beberapa ruas jalan protokol Kota Bandung diberlakukan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Corona.

“Kebijakan tersebut terbukti sudah mengganggu aktivitas ekonomi, karena tidak semua pekerja melakukan work from home alias bekerja di rumah,” ujar Sanjaya.

Sanjaya berpendapat, jika kebijakan lockdown diberlakukan maka ekonomi nasional bisa masuk dalam jurang krisis lebih cepat dari perkiraan awal.

Kata Sanjaya, lockdown juga akan menimbulkan kepanikan di banyak tempat, membuat orang melakukan penarikan uang di bank untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok. Likuiditas bank terancam kering. Sementara panic buying memperparah stok persediaan bahan pangan.

“Kita perlu belajar dari pembelian barang bermotif ketakutan yang terjadi di beberapa wilayah Jakarta. Saat pemerintah mengumumkan pasien Corona pertama, terlihat jelas bahwa pemerintah pusat maupun daerah tak bisa melakukan apapun untuk mencegah pembelian gila-gilaan itu,” terang Sanjaya.

Sehingga jelas, menurut Sanjaya selaku Ketua Umum HICMI, Okta Ketua Jaga Lembur Kab. Bandung, dan Herpi, Musisi Karawang serta komunitas masyarakat lainnya yang tergabung dalam Suara Juang Kami Untuk Indonesia menilai bahwa warga miskin yang paling terdampak apabila lockdown diterapkan.

“Orang kaya mungkin mampu menimbun barang dalam jumlah yang besar ketika karyawan kantoran di perusahaan-perusahaan multinasional memberlakukan cuti dengan tanggungan gaji, atau bekerja dari rumah, driver ojol bingung karena order mendadak sepi dan tidak bisa dikerjakan di rumah.

“Melihat kondisi dan kesiapan Indonesia, sebaiknya skenario lockdown dipikirkan secara matang,” pungkas Sunjaya.

Untuk diketahui, lockdown sendiri dapat diartikan mengisolasi seluruh akses masuk suatu negara atau daerah, baik masuk maupun keluar, termasuk fasilitas umum.

Dalam pengertian umum definisi lockdown sendiri terlalu luas karena mencakup karantina, pembatasan akses ke ruang publik, meliburkan sekolah, hingga menutup akses satu daerah dalam waktu tertentu.

Sejauh ini hanya ada beberapa negara yang melakukan lockdown seperti Italia, China, Spanyol, Irlandia dan Malaysia. Sementara Jepang dan Singapura memiliki strategi yang berbeda untuk menangkal Covid-19. [Eka].

Media Andalas

Author: Media Andalas

Aksi Saran & Informasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.