Pers, Peran Mediasi Dan Menumbuhkan Sikap Jurnalis Yang Berhati Nurani

Pers, Peran Mediasi Dan Menumbuhkan Sikap Jurnalis Yang Berhati Nurani

Ilustrasi Google: Pers, Peran Mediasi Dan Menumbuhkan Sikap Jurnalis Yang Berhati Nurani

Pers, Peran Mediasi Dan Menumbuhkan Sikap Jurnalis Yang Berhati Nurani

MEDIAANDALAS.COM, Pers dan Peran Mediasi – Perkembangan teknologi dewasa ini terasa semakin cepat. Di bidang media, kemajuan teknologi ini juga terasa begitu pesat terutama di bidang media elektronika.

Berbagai inovasi dapat kita lihat dalam kreasi-kreasi audio visual yang disajikan di media elektronika khususnya televisi. Apakah hal ini akan menggeser peran pers sebagai media cetak?

Pada awalnya memang ada kekhawatiran semacam itu. Namun pada proses berjalannya waktu, hal tersebut ternyata tidak terbukti.

Ada perbedaan-perbedaan karakter pada penyajian informasi yang masing-masing media justeru semakin melengkapi.

Indonesia adalah negara yang bagaimanapun sedang selalu berkembang. Belum lagi menjadi negara industri namun sudah mulai melepaskan diri dari negara agraris.

Terlihat dari kebijakan pemerintah mengenai pembangunan, terlihat adanya berbagai kebijakan yang tidak selaras dengan kondisi geografis dan sosio budaya, sosio ekonomi asli Indonesia.

Misalnya pengembangan kawasan, pemukiman, peraturan tentang pupuk, ekspor impor bahan kebutuhan masyarakat, dll.

Dalam kondisi yang tengah bertumbuh dan berkembang, masyarakat akan sangat membutuhkan informasi untuk dapat mengantisipasi perubahan yang ada.

Pers, Peran Mediasi Dan Menumbuhkan Sikap Jurnalis Yang Berhati Nurani
Pers, Peran Mediasi Dan Menumbuhkan Sikap Jurnalis Yang Berhati Nurani. [Red].

Informasi itu dibutuhkan untuk memahami dan mengendalikan serta menyesuakan diri dengan perubahan-perubahan.

Di sini peran media, dalam hal ini pers, sangat penting. Pers sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang No 40 tahun 1999 berfungs sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Pers bertugas memberikan informasi yang lengkap dan aktual. Bagaimanapun perubahan-perubahan itu akan mengakibatkan keresahan, kecemasan, keinginan, harapan dan hasrat-hasrat yang timbul sebagai respon terhadap lingkungan.

Media-media elektronik dapat memberikan informasi secara cepat dengan tingkat aktualitas yang lebih tinggi.

Namun media cetak, tentu memiliki kelebihan pula. Laporannya dapat lebih urut, mendetail,  dan memiliki dimensi yang lengkap. Suatu laporan yang multidimensi atau menyeluruh, sifatnya holistik.

Untuk dapat mengembangkan pers yang demikian tentu harus memiliki sumber daya yang memadai.

Dalam hal ini para wartawan dan reporter harus memiliki pengetahuan sosial budaya yang cukup.

Tanpa memiliki pengetahuan sosial budaya yang cukup sudah tentu tidak akan mampu menyajikan suatu laporan yang sesuai dengan konteks Indonesia itu sendiri.

Dengan pemahamaan yang cukup, wartawan tersebut akan mampu memberikan tulisan yang memiliki keberpihakan pada segi-segi kemanusiaan yang Indonesia sifatnya.

Tanpa memiliki pemahaman akan konteks sosial budaya, maka tulisannya akan sekedar informatif namun tidak memiliki sentuhan-sentuhan yang lengkap, kaya dan dalam.

Di sinilah letak kualitas yang akan membedakan tulisan wartawan yang satu dan lainnya, lebih jauh lagi antara media yang satu dan yang lainnya.

Kemampuan lain yang diperlukan adalah pengetahuan tentang filsafat yang akan membuat seorang jurnalis akan mampu berpikir logis, jernih dan kontekstual.

Artinya dapat menimbang lebih bijak dalam mengambil sudut pandang, lebih jernih dalam mengamati fakta dan hubungan sebab akibat dari berbagai faktor yang dapat digali.

Kemampuan menggunakan metode ilmiah juga amat penting dalam mengungkapkan fakta dalam bentuk tulisan yang mendalam.

Berbagai metode ilmiah baik dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif akan sangat diperlukan dalam mengamati, memilah fakta dan memilih fakta untuk disajikan.

Memang selama ini model interview atau wawancara adalah metode yang paling dasar, namun kini sudah tidak lagi memadai.

Saat ini mulai dikembangkan metode, survey, kuisioner, bahkan polling yang memerlukan kecermatan dan ketepatan metode sesuai dengan permasalahan yang dihadapi dan ingin diangkat.

Dengan menguasai teknik-teknik tersebut maka tulisan yang dihasilkan akan berbobot, lengkap dan memiliki kredibilitas tinggi.

Jurnalis, wartawan atau reporter dapat hidup dalam berbagai sistem politik. Hal ini membutuhkan kemampuan adaptasi dan keluwesan seorang jurnalis dalam menjalankan profesinya.

Sistem politik yang berbeda akan menghasilkan hubungan yang berbeda antara masyarakat, pemerintah dan pers.

Ada sistem yang memberikan kebebasan sepenuhnya, ada yang mengikat, ada yang memperalat dan mensubordinasikan, ada yang mengembangkan hubungan yang seimbang.

Dengan demikian maka sistem politik yang berbeda akan mengembangkan hubungan yang berbeda antara pemerintah dengan masyarakat pula.

Meski demikian ada suatu sifat yang berkembang secara alami, bahwa setiap jurnalis akan mengembangkan sikap yang merdeka, independen, tidak berpihak pada penguasa dan lebih menuruti suara hatinya.

Meski demikian yang disebut suara hati tentu akan dipengaruhi oleh pendidikan, latar belakan ekonomi, politik, budaya masyarakat dan filosofi negara dimana dia tinggal.

Sumber dikutip dari : https://sinaukomunikasi.wordpress.com/2011/08/10/pers-peran-mediasi-dan-menumbuhkan-sikap-jurnalis-yang-berhati-nurani/

Tri Nugroho Adi & Wisnu Widjanarko, Modul Perkuliahan Dasar-Dasar Pers. Prodi Ilmu Komunikasi Unsoed. Tidak diterbitkan.

————–

Penulis adalah Staf pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi Unsoed, makalah disampaikan dalam Pelatihan Ilmu Jurnalistik, Mahasiswa Farmasi Unsoed, Sabtu 18 Desember 2010, di Gedung C Kompleks Kampus FKIK Universitas Jenderal Soedirman, Karangwangkal, Purwokerto, Jawa Tengah.

Media Andalas

Author: Media Andalas

Aksi Saran & Informasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.