Sosialisasikan Pencegahan Pertambangan Ilegal Kapolres Aceh Barat Hadirkan Instansi Terkait

Sosialisasikan Pencegahan Pertambangan Ilegal Kapolres Aceh Barat Hadirkan Instansi Terkait

Sosialisasikan Pencegahan Pertambangan Ilegal Kapolres Aceh Barat Hadirkan Instansi Terkait

MEDIAANDALAS.COM, ACEH BARAT – Kapolres Aceh Barat menghadirkan Pihak Terkait dalam rangka Mensosialisasikan Pencegahan Pertambangan Ilegal dalam wilayah Hukum Polres Aceh Barat.

Acara yang diselenggarakan di Aula Zainuddin Makam Polres Aceh Barat, berlangsung pada hari Senin (09/03/20) dengan Pembicara Wakapolres Aceh Barat Kompol M. Zainuddin, SH., dengan Pemateri dari Unsur Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (KTPSP) Aceh Barat yang diwakili Kasi Perizinan Febriyanti, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) diwakili Kasi Pemantauan Limbah dan Pencemaran, Hermis. Dari Unsur WALHI Provinsi Aceh diisi oleh Divisi Advokasi & Kampanye, M.Nasir. Selain Pembicara dan Pemateri, Acara yang dimulai pukul; 09.30 WIB dan selesai hingga pukul 13.00 WIB tersebut turut dihadiri Kadis Lingkungan Hidup Aceh Barat, Kadis Perizinan, Para PJU Polres Aceh Barat, Para Kapolsek dan Camat se-Kabupatren Aceh Barat serta para Keuchik daerah berpotensi Pertambangan ilegal.

Maksud dan tujuan dilaksanakan kegiatan ini, Menurut Kasat Binmas Polres Aceh Barat Iptu Budi Eka Putra, sebagai Panitia Penyelenggara agar pemangku jabatan di wilayah masing – masing dapat mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, sehingga dapat mencegah terjadinya penambangan ilegal terutama di setiap daerah yang berpotensi terjadinya penambangan ilegal.

Wakapolres Aceh Barat, dalam arahannya menekankan pentingnya pemahaman kita terhadap resiko dan dampak dari pertambangan ilegal yang semakin marak terutama di Aceh Barat.

Sosialisasikan Pencegahan Pertambangan Ilegal Kapolres Aceh Barat Hadirkan Instansi Terkait
Sosialisasikan Pencegahan Pertambangan Ilegal Kapolres Aceh Barat Hadirkan Instansi Terkait

Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh pertambangan ilegal ini antara lain timbulnya kerusakan lingkungan. Menurut Wakapolres, M. Zainuddin, akibat dari kerusakan lingkungan hidup dapat menimbulkan bencana alam.

“Pembuangan Limbah dapat menimbulkan longsor atau banjir akibat labilnya struktur tanah, berkurangnya populasi habitat flora dan fauna.” Tegas Wakapolres.

Sementara Hermis, Kasi Pemantauan Limbah dan Pencemaran yang berbicara dalam bidang Lingkungan hidup menjelaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup mencakup pengelolaan tanah penutup, pengendalian air kegiatan tambang, pengendalian erosi dan sidimentasi, reklamasi dan revegetasi, pengelolaan limbah padat B3 dan Pengelolaan kualitas udara.

Sedangkan dalam pengelolaan air kegiatan tambang meliputi, pembuatan kolam pengendap, pembuatan saluran/drainase, pengendapat air limbah, pengukuran kualitas air, penambahan bahan kimia (pengapuran) pengaliran air ke saluran umum, dan pemimpaan air limbah dari lubang tambang ke kolam pengendapan.

Sementara Direktur Walhi Provinsi Aceh yang diwakili Divisi advokasi & Kampanye, M.Nasir memaparkan Kegiatan Pertambangan emas ilegal.

Menurutnya, penambangan ilegal di ACEH menggunakan 3 pola, yaitu Kegiatan pertambangan emas ilegal di Aceh menggunakan tiga pola, yaitu sbb :

• Menggali lobang secara vertikal dengan kedalaman tertentu kemudian dibuat lobang secara horizontal dibawahnya. Proses penggalian lobang ini dilakukan secara manual, instalasi kabel listrik dimasukan dalam lobang sebagai alat penerangan, serta para pekerja tambang menggunakan selang pernafasan yang dihasilkan oleh mesin oksigen. Pola penambangan seperti ini pada umumnya menggunakan zat merkuri dalam proses pengolahan bahan tambang dengan mesin gelondongan untuk mendapatkan emas.

• Menggunakan alat berat jenis excavator. Pola penambangan menggunakan alat berat umumnya berada di aliran sungai dalam kawasan hutan seperti di Pidie dan dalam kawasan pemukiman penduduk seperti di Beutong, Nagan Raya. Hasil galian tambang kemudian disaring menggunakan Asbuk untuk mendapatkan serbuk emas.

• Menggunakan mesin sedot pasir dan umumnya pola pertambangan seperti ini berada di aliran sungai, seperti di Pidie, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Selatan.

Dampak Dari Pertambangan, yaitu :

1) Rusak kawasan hutan,

2) Terganggungnya koridor satwa,

3) Rusak fisik dan kualitas air sungai,

4) Rusak pemukiman, perkebunan penduduk,

5) Pencemaran air,

6) Mengganggu kesehatan penduduk,

7) Sebagai faktor bencana ekologi,

8) Pencemaran debu,

9) Konflik tenurial, 

10) Protes dan konflik sosial,

11) Rusak lingkungan dan biota perairan.

[Sayid].

Media Andalas

Author: Media Andalas

Aksi Saran & Informasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.