Alasan Korupsi Masih Merajalela di Indonesia

Anti Korupsi

MEDIAANDALAS..COM, JABAR – Upaya pemberantasan korupsi sudah dilakukan sejak lama dengan menggunakan berbagai cara.

Sanksi terhadap pelaku korupsi sudah diperberat, namun hampir setiap hari kita masih membaca atau mendengar adanya berita mengenai korupsi.

Berita mengenai operasi tangkap tangan (OTT) terhadap pelaku korupsi masih sering terjadi.

Korupsi seolah telah menjadi warisan budaya yang sengaja dilestarikan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab

Jika korupsi dalam suatu masyarakat telah merajalela dan menjadi makanan masyarakat setiap hari, maka akibatnya akan menjadikan masyarakat tersebut sebagai masyarakat yang kacau, tidak ada sistem sosial yang dapat berlaku dengan baik.

Setiap individu dalam masyarakat hanya akan mementingkan diri sendiri (self interest), bahkan selfishness. Tidak akan ada kerja sama dan persaudaraan yang tulus. Berikut penjelasan lengkap mengenai pengertian dan faktor penyebab korupsi, serta bagaimana sebenarnya upaya yang dilakukan untuk pemberantasannya.

Mengenal Istilah Korupsi

Istilah korupsi berasal dari bahasa latin yakni corruptio. Dalam bahasa Inggris adalah corruption atau corrupt, dalam bahasa Perancis disebut corruption dan dalam bahasa Belanda disebut dengan coruptie. Sepertinya, dari bahasa Belanda itulah lahir kata korupsi dalam bahasa Indonesia.

Korup berarti busuk, buruk; suka menerima uang sogok (memakai kekuasaannya untuk kepentingan sendiri dan sebagainya). Korupsi adalah perbuatan yang buruk (seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya).

Menurut Nana, definisi paling sederhana dari korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi atau kelompok.

Berdasarkan pandangan hukum, dikatakan korupsi apabila memenuhi unsur-unsur perbuatan yang melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi, dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Korupsi berakibat sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, baik aspek kehidupan sosial, politik, birokrasi, ekonomi, dan individu.

Nana Supriatna Hadiwinata, Ketua GNPK RI Jabar mengatakan kepada mediaandalas.com saat dimintai pandangan tentang Bahaya Korupsi meyatakan bahwa “Bahaya korupsi bagi kehidupan diibaratkan bahwa korupsi adalah seperti kanker dalam darah, yang membuat pemilik badan harus selalu melakukan “cuci darah” terus menerus jika ia masih ingin hidup.”

Lanjut Nana, ada 6 Karakteristik Dasar Korupsi. Bentuk atau perwujudan utama korupsi menurutnya terdapat dalam 6 karakteristik dasar korupsi, yaitu:

1. Suap (Bribery)

Adalah pembayaran dalam bentuk uang atau barang yang diberikan atau diambil dalam hubungan korupsi. Suap merupakan jumlah yang tetap, persentase dari sebuah kontrak, atau bantuan dalam bentuk uang apapun.

Biasanya dibayarkan kepada pejabat negara yang dapat membuat perjanjuan atas nama negara atau mendistribusikan keuntungan kepada perusahaan atau perorangan dan perusahaan.

2. Penggelapan (Embezzlement)

Adalah pencurian sumberdaya oleh pejabat yang diajukan untuk mengelolanya. Penggelapan merupakan salah satu bentuk korupsi ketika pejabat pemerintah yang menyalahgunakan sumberdaya public atas nama masyarakat.

3. Penipuan (Fraud)

Adalah kejahatan ekonomi yang melibatkan jenis tipu daya, penipuan atau kebohongan. Penipuan melibatkan manipulaso atau distorsi informasi oleh pejabat publik.

Penipuan terjadi ketika pejabat pemerintah mendapatkan tanggungjawab untuk melaksanakan perintah. Memanipulasi aliran informasi untuk keuntungan pribadi.

4. Pemerasan (Extortion)

Adalah sumberdaya yang diekstraksi dengan menggunakan paksaan, kekerasan atau ancaman. Pemerasan adalah transaksi korupsi dimana uang diekstraksi oleh mereka yang memiliki kekuatan untuk melakukannya.

5. Favoritisme

Adalah kecende-rungan diri dari pejabat negara atau politisi yang memiliki akses sumberdaya negara dan kekuasaan untuk memutuskan pendistribusian sumberdaya tersebut.

Favoritisme juga memberikan perlakuan istimewa kepada kelompok tertentu. Selain itu, favoritisme juga mengembangkan mekanisme penyalahgunaan kekuasaan secara privatisasi.

6. Nepotisme

Adalah bentuk khusus dari favoritism, mengalokasikan kontrak berdasarkan kekerabatan atau persahabatan.

Oleh karena itu upaya pemberantasan korupsi bukanlah hal yang mudah. Meski sudah dilakukan berbagai upaya untuk memberantas korupsi, masih ada beberapa hambatan dalam pelaksanaannya.” Pungkas Abah Nana, sapaan Akrab Ketua GNPK RI Jawa Barat mengakhiri perbincangan. [Gunawan].

Media Andalas

Author: Media Andalas

Aksi Saran & Informasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.