Kilas Balik Kampung Mistis di Tubaba Yang Terlupakan

Kilas Balik Kampung Mistis di Tubaba Yang Terlupakan

MEDIAANDALAS.COM, TUBABA – Panarag atau Penarag sebutan orang-orang kampung tempo dulu yang juga disebut dengan Panaragan saat ini adalah sebuah kampung yang tak jauh dari pusat kabupaten baru yakni, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), sebuah kabupaten yang dibentuk oleh Pemerintah pada tahun 2008 silam di Propinsi Lampung. Arti dari sebuah Penarag atau Panarag adalah Petapa menurut orang-orang tua dahulu, bicara soal Petapa berarti bicara soal kedigdayaan dan kedigdayaan adalah suatu ilmu olah jiwa dan olah raga.

Kembali kepada Penarag atau Panarag, suatu kampung yang tak lepas dari kisah mistisnya, banyak diantara hal-hal mistis yang tak masuk akal bisa dijumpai dikampung tersebut namun itu nyata pada kehidupan masyarakat setempat.

Seperti yang terjadi di sebuah tempat masih di Panaragan hal yang mustahil namun ini nyata seperti kisah simpang Tiga atau dahulu disebut sebagai Gunung Tekuk, Gunung Tekuk adalah dataran tinggi seperti gunung namun bukan juga gunung atau perbukitan akan tetapi masyarakat setempat menyebutnya gunung.

Gunung Tekuk tersebut bisa ditemui saat pertama kali masuk ke kampung tua yakni Panaragan. Konon daerah ini adalah daerah yang sangat sakral sebab di sebut sebagai pintu gerbang masuknya daerah Petapaan, pada tahun 70 dan 80 sampai 90 -an setiap orang baru yang datang berkunjung ke Panaragan biasanya wajib bersedekah yakni melemparkan permen atau uang koin di pertigaan Gunung Tekuk atau simpang Tiga saat ini.

Konon budaya seperti itu menandakan manusia yang welas asih dan suka berbagi kepada sesama. Dan sampai saat ini kebiasaan orang yang paham akan hal tersebut masih dilakukan terbukti sering para pejalan kaki, atau kendaraan yang melintas menemukan Permen atau Uang koin yang beserakan dijalan.

“Saat ini simpang Tiga tersebut akan dibangun oleh pemerintah setempat Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan akan di dirikan Batu Kenetikum serta patung Ayam Hutan alis Berugow (beruga). Oleh masyarakat setempat sangat mendukung adanya pembangunan RTH tersebut akan tetapi usulan masyarakat khusus nya masyarakat adat agar simpang Tiga tersebut di bangun Patung Sang Petapa sebagaimana bahwa Panaragan adalah tempatnya para Petapa. Usulan tersebut disampaikan secara tertulis oleh seorang warga bernama Khoiri Rujungan kepada Bupati setempat. Ia berpendapat kurang pas bilamana simpang Tiga tersebut di dirikan Patung Ayam Beruga sebab tidak memiliki makna atau pilosofi budaya lokal setempat. Kamis (13/08)

Kembali kepada Penarag dan simpang Tiga ada kisah mistis yang menakjubkan, konon dibukit atau gunung tersebut dahulu digunakan masyarakat setempat untuk meminjam alat-alat musik tradisional yang digunakan saat-saat warga ingin mengadakan upacara adat Lampung, adapun alat-alat tersebut seperti Gamelan, Gambus, Kerenceng, Gendang, dan lainnya. Bahkan yang menarik adalah semua alat musik tersebut di minta atau di ambil secara gaib yakni dengan duduk bersila di kaki bukit atau gunung Tekuk tersebut sambil berdoa dan meminta agar dapat di pinjamkan alat musik itu. Dan anehnya hal mustahil alat musik yang diminta atau dipinjam secara tiba-tiba hadir di depan mata padahal di sekeliling hanya pepohonan rindang dan semak belukar saja. Namun tidak mudah hanya orang tertentu yang bisa melakukan hal yang tak masuk akal tersebut.

Konon alat musik tersebut berasal dari gunung Ja’Way yakni suatu gunung yang menurut legenda masyarakat adat adalah gunung yang berasal dari pancuran air yang menjulang tinggi hingga secara tak masuk akal air itu berubah menjadi bebatuan yang kini disebut gunung Ja’Way.

Gunung Ja’Way yang berada di seberang sungai Panaragan tak jauh dari kampung yang bisa dilihat dari perkampungan, yang menarik dari gunung tersebut adalah berdirinya sebatang pohon yang tinggi namun tak satupun masyarakat setempat bahkan warga yang ahli dibidang kayu tak tahu nama dari pohon tersebut dan pohon tersebut di perkiraan berusia ratusan tahun.

Zaman semangkin berubah semua tinggal cerita setiap peradaban pasti akan berlalu. Seperti halnya Penarag sebuah kampung yang memiliki banyak cerita mistis yang diluar nalar manusia percaya atau tidak tapi kesemuaan cerita rakyat itu nyata adanya, seperti tanah gundul yang tak tumbuh rumput bahkan daunpun tak sampai jatuh di tanah tersebut, dan terlihat selalu bersih seperti disapu sang penunggunya dan kini keberadaan tanah itu masih ada.

“Ada seorang paranormal asal banten menyebutkan bahwa dahulu pada abad ke-12 tanah tersebut adalah tempat berkumpulnya para wali Allah dan ia juga mengatakan suatu saat akan bermunculan para makam-makam terdahulu pendiri atau cikal bakal kampung itu (ia menyebutkan Panaragan saat ini ) ada juga kisah makam Renggow, makam yang tak terendam air walau air sungai meluap, adapula kisah Kapal Meneng, sebuah bukit atau gunung yang menjelma seperti kapal, ada pula hutan larangan dan kisah sebuah kapal yang membawa harta berupa emas dan alat perang yang karam di dasar sungai batanghari depan Makam Minak Indah.

Masih banyak lagi kisah mistis namun nyata pada kehidupan masyarakat setempat yang tak ketinggalan Masjid Tua Panaragan yang dikenal dengan Masjid Islam Wathon konon masjid tersebut dibuat pada abad ke 12 zaman kerajaan dahulu dan sudah empat kali direnovasi dan berubah bentuk yang dahulu masjid tersebut masjid beratapkan ijuk dan berdindingkan kulit kayu dan majid tua tersebut awal mula peradaban islam di Penarag dimulai.

Maka penulis menduga bahwa Penarag atau Panaragan dahulu memang benar adalah tempat para manusia zaman dahulu sebelum dan sesudah Islam untuk bertapa, bersemedi atau bertafakur yakni mengolah jiwa dan raga untuk bertemu sang ilahi. [Roji/Jaz]

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.