GENPPARI Bersilaturahmi dengan Sultan Keraton Kasepuhan

GENPPARI Bersilaturahmi dengan Sultan Keraton Kasepuhan. [Eka].

GENPPARI Bersilaturahmi dengan Sultan Keraton Kasepuhan PRA Arif Natadiningrat

Foto Istimewa : Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersilaturahmi ke Sultan Keraton Kasepuhan PRA Arif Natadiningrat. [Eka].
Foto Istimewa: Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersilaturahmi ke Sultan Keraton Kasepuhan PRA Arif Natadiningrat. [Eka].
GENPPARI Bersilaturahmi dengan Sultan Keraton Kasepuhan PRA Arif Natadiningrat
Foto Istimewa: GENPPARI Bersilaturahmi dengan Sultan Keraton Kasepuhan PRA Arif Natadiningrat. [Eka].

Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo di dalamnya. Keraton Kasepuhan adalah kerajaan islam tempat para pendiri cirebon bertahta, disinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri.

MEDIAANDALAS.COM, CIREBON – Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, dalam rangka menjalin silaturahmi dan memperkenalkan GENPPARI dalam pengembangan pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi di Dalem Arum, Keraton Kasepuhan Jalan Kasepuhan No.43, Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jum’at (20/09/19).

Foto Istimewa : Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].
Foto Istimewa: Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].

Dede Farhan Aulawi menyampaikan terima kasih atas kesediaan Sultan Arief sapaan PRA Arief Natadiningrat menerima rombongan dan memperkenalkan GENPPARI.

Dede menjelaskan bahwa “Pembangunan yang begitu masif dilakukan saat ini pasti membutuhkan banyak biaya. Sementara itu, sumber pemasukan negara dari sektor migas dan pajak sudah cukup berat.”

Dede menambahkan “Begitupun defisit neraca perdagangan membuat kas negara berkurang. Oleh karena itu diperlukan terobosan kreatif dan gagasan-gagasan segar untuk mengatasinya.”

“Oleh karenanya kegiatan silaturahmi ini bertujuan untuk menjalin kerjasama dalam pengembangan pariwisata khususnya program wisata keraton.”

Pada Kesempatan itu, Sultan Sepuh menyambut baik dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan Dede Farhan Aulawi bersama Rombongan GENPPARI ke Keraton Kasepuhan.

Foto Istimewa : Sultan Sepuh menyambut baik dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan Dede Farhan Aulawi bersama Rombongan GENPPARI ke Keraton Kasepuhan. [Eka].
Foto Istimewa: Sultan Sepuh menyambut baik dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan Dede Farhan Aulawi bersama Rombongan GENPPARI ke Keraton Kasepuhan. [Eka].

Dalam kesempatan tersebut, Sultan Arief  memaparkan sejarah tentang Keraton Kasepuhan. “Sekitar abad 15 M dipimpin oleh Sunan Gunung Jati dengan wilayah Cirebon, Jakarta dan Banten serta berbagai budaya serta tradisi yang masih dilaksanakan sampai dengan saat ini.”

“Kota Cirebon terdiri dari berbagai etnis dengan beragam budaya namun kondusifitas tetap terjaga dan dalam perkembanganya Keraton Kasepuhan sebagai pusat kunjungan wisata baik tamu pemerintahan termasuk pejabat.” ungkapnya.

Foto Istimewa : Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].
Foto Istimewa: Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].

Sultan berharap, GENPPARI dengan Keraton Kasepuhan dan keraton lainnya di Cirebon dapat bersama-sama saling mendukung demi kemajuan pariwisata.

Baca Juga : Silsilah PRA Arif Natadiningrat, Sultan Cirebon Keturunan Langsung Sunan Gunung Jati

Sejarah Kraton Kasepuhan

Dikutip dari Baluarti Kraton Kasepuhan Cirebon karya E. Nurmas Argadikusuma, Sunan Gunung Jati memiliki peran penting dalam proses penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dan Cirebon adalah sebagai pusatnya. Sunan Gunung Jati menikah dengan sepupunya, Ratu Ayu Pakungwati, yang merupakan anak dari Pangeran Cakrabuwana. Pangeran Cakrabuwana adalah putra mahkota dari Kerajaan Pajajaran. Sejak menikah, Sunan Gunung Jati dinobatkan sebagai pemimpin Kota Cirebon.

Ratu Ayu Pakungwati dibuatkan sebuah keraton oleh ayahandanya yang disebut Keraton Pakungwati atau Dalem Agung Pakungwati pada tahun 1430. Ini adalah cikal bakal dari berdirinya keempat keraton yang ada di Cirebon, termasuk Keraton Kasepuhan. Hingga akhirnya pada tahun 1568 Sunan Gunung Jati wafat dan takhtanya digantikan oleh cicitnya, Pangeran Emas Zainul Arifin, sampai tahun 1649. Selanjutnya keraton dipimpin oleh Pangeran Girilaya rentang tahun 1649-1662.

Sepeninggal Pangeran Girilaya, Keraton Pakungwati terbagi menjadi tiga bagian karena pembagian untuk ketiga putranya. Putra Pangeran Girilaya adalah Pangeran Raja Syamsuddin Martawijaya yang akhirnya bertugas memerintah Kesultanan Kasepuhan, Pangeran Raja Muhammad Badrudin Kartawijaya yang bertugas memerintah Kesultanan Kanoman, dan Pangeran Raja Wangsakerta yang bertugas dalam perguruan putra-putri keraton. Pangeran Raja Wangsakerta tetap tinggal di Keraton Kasepuhan sembari membantu Pangeran Raja Martawijaya.

Tahun 1679, Keraton Kanoman mulai berdiri dan dipimpin oleh Sultan Anom I bernama Sultan Badrudin. Sejak saat itu, Keraton Pakungwati ikut berubah nama menjadi Keraton Kasepuhan yang dipimpin oleh Sultan Sepuh I yang bernama Pangeran Raja Syamsuddin Martawijaya.

Foto Istimewa : Foto Istimewa : Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].
Foto Istimewa: Foto Istimewa : Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].

GENPPARI Menilai Pesona Keraton Kasepuhan Menjadi Daya Tarik Pariwisata

Foto Istimewa : Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].
Foto Istimewa: Dede Farhan Aulawi Ketua Umum GENPPARI bersama rombongan mengunjungi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan. [Eka].

GENPPARI menilai destinasi wisata di Cirebon yang paling banyak dikunjungi wisatawan asing adalah Keraton Kasepuhan. Bukan tanpa alasan, keraton yang dibangun Pangeran Mas Mochammad Arifin II pada 1529 ini menyimpan banyak cerita sejarah.

Sebagai salah satu kota tertua di Nusantara, Cirebon sudah dikenal luas oleh masyarakat penjuru dunia sejak berabad-abad lalu. Keberadaan tempat-tempat bersejarah menjadi daya tarik para wisatawan asing mengunjungi kota kecil yang terletak di pantai utara pulau Jawa itu.

Di keraton ini, tiap orang bisa melihat langsung beragam benda peninggalan dan benda-benda pusaka peninggalan masa silam. Menariknya, di keraton ini terdapat sebuah Kereta Kencana milik Sultan Kasepuhan berupa Paksinagaliman yang diwariskan secara turun-menurun saat pergantian sultan.

Foto Istimewa : Kesultanan Kasepuhan Cirebon. [Eka].
Foto Istimewa: Kesultanan Kasepuhan Cirebon. [Eka].

Kerajaan Nusantara

Tercatat dalam sejarah Istana Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu yang tertua masih ada bangunannya hingga keaslian arsitekturnya.

Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, terus berupaya mengembangkan dan mempromosikan kerajaan di Nusantara sebagai tujuan wisata bersejarah secara global.

Foto Istimewa : Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat bersama Presiden Jokowi. [Red].
Foto Istimewa: Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat bersama Presiden Jokowi. [Red].

Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat

Pemimpin Keraton Kasepuhan sekarang, Pangeran Arif Natadiningrat, dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XIV pada 9 Juni 2010. Beliau menggantikan Sultan Sepuh XIII yang merupakan ayahandanya tepat 40 hari setelah wafatnya. Seperti dikutip dari laman resmi Keraton Kasepuhan, penobatan ini dilakukan dalam rangkaian acara “Jumenengan” di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Dalam acara Jumenengan ini terdapat ritual penyematan keris Sunan Gunung Jati oleh Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat sendiri. Selain itu, ada pula acara melepas 14 ekor burung merpati putih, menanam pohon langka “Dewan Daru” sebanyak 14 batang dan menyunat 14 anak yatim piatu. [Eka].

Media Andalas

Author: Media Andalas

Aksi Saran & Informasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.