Kisah Tiga Orang Yang Terjebak di Dalam Gua

Kisah Tiga Orang Yang Terjebak di Dalam Gua

Ilustrasi

Kisah Tiga Orang Yang Terjebak di Dalam Gua

Oleh : Khoirunnas Harahap, S.Pd

MEDIAANDALAS.COM – Sahabat Pembaca mediaandalas.com, kali ini kita mencoba bercerita tentang Kisah Tiga Orang Yang Terjebak di dalam Gua yang menurut Logika mereka tidak mungkin dapat keluar lagi dari dalam Gua Tersebut karena pintu masuk telah tertutup oleh Batu yang sangat Besar.

Kisah ini diambil dari hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah pernah berkisah tentang tiga orang pria yang terjebak dalam sebuah gua.

Cerita dimulai ketika Tiga orang pria dalam sebuah perjalanan hujanpun turun sehingga mereka memilih berteduh dalam sebuah gua di suatu gunung. Sesudah memasuki Gua berselang tak lama Tiba-tiba saja batu besar jatuh dan pas menutupi mulut gua dan membuat gua gelap sehingga jangankan untuk keluar cahayapun sulit untuk ditemukan. Kepanikan dan kekhawatiran pun mulai timbul sebab mereka bertiga tidak cukup tenaga untuk mendorong dan menggeser batu raksasa yang menutupi mulut Gua tersebut.

Ketiganya pun pasrah dan tidak tahu lagi mau berbuat apa, tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata “Kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa selain Berdo’a, Coba ingat-ingat amal baik kalian yang betul-betul tulus karena Allah, lalu berdoalah Kepada Allah lewat perantara amal tersebut. Semoga Allah memberi jalan keluar”.

Sesaat kemudian temannya mengadu kepada Allah dan mulai menyebutkan amal perbuatan baiknya. “Ya Allah ya Tuhan ku, aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia, juga seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Aku menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, aku pun segera memerah susu dan aku dahulukan untuk kedua orang tuaku. Lalu aku berikan air susu tersebut kepada kedua orang tuaku sebelum aku berikan kepada anak-anakku. Pada suatu ketika, tempat penggembalaanku jauh, hingga aku pun baru pulang pada sore hari. Kemudian aku dapati kedua orang tuaku sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, aku segera memerah susu dan setelah itu aku membawanya ke kamar kedua orang tuaku. Aku berdiri di dekat keduanya serta tidak membangunkan mereka dari tidur. Akan tetapi, aku juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anakku sebelum diminum oleh kedua orang tuaku, meskipun mereka, anak-anakku, telah berkerumun di telapak kakiku untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut aku dan anak-anakku jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwasanya aku melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap Ridho-Mu, maka bukakanlah suatu celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit!”.

Allah SWT, mendengar Doa tersebut dan membuka celah lubang gua, namun hanya sedikit sehingga satu pun dari mereka bertiga belum bisa keluar dari celah tersebut.

Melihat kondisi seperti itu, salah seorang lagi dari mereka langsung berdiri sambil berkata, “Ya Allah ya Tuhan ku, kepada putri pamanku aku pernah jatuh cinta layaknya seorang pria yang begitu menggebu-gebu menyukai wanita. Suatu ketika aku pernah mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi ia menolak hingga aku dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya aku pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika aku berada di antara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; ‘Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu.’ Lalu aku bangkit dan meninggalkannya.

Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa aku melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan Ridho-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!” Allah pun membukakan sedikit celah lagi untuk mereka bertiga. Tapi lagi-lagi mereka masih belum bisa keluar dari gua.

Orang yang ketiga pun berdiri lalu memanjatkan doa: “Ya Allah ya Tuhanku, dulu aku pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawahku dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata, ‘Berikanlah hakku!’ Namun aku tidak dapat memberikan haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel. Setelah itu, aku pun menanami sawahku sendiri hingga hasilnya dapat aku kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya.

Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak aku berikan datang kepadaku dan berkata, “Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zalim terhadap hak orang lain”, Lalu aku berkata kepada orang tersebut, “Pergilah ke sapi-sapi dan para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu”, Orang tersebut menjawab, “Takutlah kepada Allah dan jangan mengejekku”, Kemudian aku katakan lagi kepadanya, “Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu”, Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah aku lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari Ridho-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka”. Akhirnya Allah pun membukakan sisanya hingga mereka dapat keluar dari dalam gua yang terhalang batu besar tersebut.

Begitu Mulianya mereka, do’a-do’a yang dipanjatkan di Ijabah oleh Allah SWT tentunya dengan kemulian-kemulian perbuatan yang telah dilakukan mereka sebelumnya. Ketika Tenaga dan fikiran tidak lagi berdaya, Do’a yang dipanjatkan menjadi penyelamat mereka sehingga bisa keluar dari dalam Gua yang sudah tertutup oleh Batu yang sangat Besar.

Editor : Eka Himawan

Media Andalas

Author: Media Andalas

Aksi Saran & Informasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.